
Kamis malam, 17 September 2026, sekitar pukul 19.00 WIB, Bayu, Admin Instagram infobluru dan blurukidul.sidoarjo.org sowan ke rumah Pak Suhardi di RW 2 Blurukidul.
Pak Suhardi merupakan salah satu sesepuh Desa Blurukidul. Dalam kesempatan tersebut, kami ngobrol dan menggali cerita tentang kehidupan para nelayan Blurukidul, serta tradisi Nyadran.
Pak Suhardi telah meneruskan tradisi Nyadran selama kurang lebih 40 tahun, mengikuti jejak orang tuanya.
Kehidupan Nelayan Blurukidul
Dalam cerita tentang kehidupan nelayan, Pak Suhardi menjelaskan bahwa banyak nelayan Blurukidul sejak dahulu mencari kerang batik, kukur, dan balok.Dahulu, para nelayan merupakan warga asli Blurukidul. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak nelayan sepuh yang telah meninggal dunia sehingga jumlah nelayan asli Blurukidul kini menjadi semakin sedikit.
Saat hasil kerang sedang banyak, nelayan dari daerah lain, termasuk Demak dan Jombang, juga datang ke Blurukidul untuk ikut mencari kerang.
Bagi nelayan, kondisi alam menjadi bagian dari tantangan sehari-hari. Pada musim hujan, hujan dan petir menjadi salah satu tantangan, sedangkan pada musim kemarau, gelombang menjadi tantangan yang harus dihadapi ketika melaut.
Untuk wilayah pencarian kerang, Pak Suhardi menyebut beberapa kawasan yang biasa menjadi lokasi nelayan. Jika bergerak ke arah utara, dari kawasan Wonorejo menuju tengah hingga sekitar perbatasan Lampu Timbul.
Sementara di sekitar wilayah tengah, dari Gisik menuju tengah, terdapat kawasan yang disebut Curah Ombo.
Tradisi Nyadran
Tradisi Nyadran di Blurukidul dilaksanakan pada bulan Maulud. Pak Suhardi memiliki peran dalam pelaksanaannya karena telah meneruskan tradisi tersebut dari orang tuanya selama sekitar 40 tahun.Dalam pelaksanaan Nyadran, Pak Suhardi bersama sesepuh lain dalam satu perahu berangkat lebih dahulu pada tengah malam untuk mengawali perjalanan Nyadran menuju Kepetingan. Pada pagi harinya, peserta Nyadran menyusul menggunakan perahu masing-masing.
Setiap perahu membawa tumpeng dan makanan sebagai bekal peserta selama perjalanan. Sesampainya di Kepetingan, tumpeng dibawa ke pendopo Mbah Sekardadu untuk dilaksanakan doa bersama.
Setelah acara selesai, tumpeng kemudian diberikan kepada warga Kepetingan.
Tradisi Nyadran menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat pesisir Blurukidul.
Biasanya, sehari setelah pelaksanaan Nyadran, kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran wayang dan pengajian sebagai penutup dari rangkaian kegiatan Nyadran.
Obrolan bersama Pak Suhardi malam ini menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan cerita, tradisi, dan sejarah lokal Blurukidul.