
Jumat siang, 18 September 2026, sekitar pukul 13.00 WIB, Bayu, Admin Instagram infobluru dan blurukidul.sidoarjo.org sowan ke rumah Haji Waras di RW 7 Blurukidul.
Haji Waras merupakan salah satu sesepuh Desa Blurukidul. Sejak awal tahun 2000-an, pada masa kakeknya masih ada, Haji Waras telah terlibat dan menjadi bagian dari kepanitiaan tradisi Nyadran.
Nyadran Dahulu dan Sekarang
Menurut Haji Waras, pelaksanaan Nyadran di Blurukidul mengalami perubahan dari masa ke masa.Dahulu, Nyadran dilakukan pada malam hingga dini hari. Para sesepuh berangkat menggunakan perahu masing-masing dan harus sudah tiba di pendopo Mbah Sekardadu sebelum subuh. Sesampainya di sana, prosesi dilakukan oleh masing-masing sesepuh secara sendiri-sendiri. Pada masa itu, pelaksanaan Nyadran berlangsung sederhana.
Seiring waktu, pelaksanaan Nyadran berubah menjadi kegiatan yang lebih terorganisasi dan dilakukan secara bersama-sama. Pada malam hari, satu perahu yang membawa para sesepuh berangkat mewakili seluruh nelayan Blurukidul menuju Kepetingan. Kemudian pada pagi harinya, para peserta Nyadran menyusul menggunakan perahu masing-masing.
Dalam doa di pendopo Mbah Sekardadu, tahlil dipimpin oleh Pak Modin, baik dari Kepetingan maupun dari Blurukidul.
Haji Waras juga melihat perubahan suasana dalam pelaksanaan Nyadran. Jika dahulu kegiatannya sederhana dan berfokus pada para sesepuh, kini rangkaiannya semakin ramai dengan berbagai rangkaian acara, hiburan dan penggunaan pengeras suara. Menurut Haji Waras, kondisi tersebut juga membawa tantangan tersendiri karena terdapat potensi kerawanan, seperti tawuran dan mabuk-mabukan.
Rangkaian Nyadran saat ini tidak hanya berupa perjalanan dan doa bersama. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, acara biasanya ditutup dengan pengajian sebagai bagian dari penutup rangkaian kegiatan Nyadran.
Perubahan Kehidupan Nelayan Blurukidul
Kehidupan nelayan Blurukidul juga mengalami perubahan cukup besar.Pada tahun 2007, menurut Haji Waras, terdapat sekitar 120 perahu di Kali Blurukidul. Kini jumlahnya diperkirakan tinggal sekitar 30 perahu.
Jumlah nelayan asli Blurukidul juga semakin berkurang. Saat ini terdapat nelayan dari berbagai daerah, di antaranya Jombang, Kediri, dan Demak. Sebagian di antaranya bahkan telah memiliki perahu sendiri.
Peralatan yang digunakan nelayan juga mengalami perubahan. Dahulu, nelayan lebih banyak menggunakan cara manual, termasuk turun langsung ke air atau nyemplung. Perahu juga digerakkan menggunakan dayung.
Kini, nelayan telah menggunakan peralatan yang lebih modern, seperti jaring dan mesin perahu.
Kerang dan Pengembangan Produk
Haji Waras pernah mencoba mengembangkan hasil kerang menjadi produk makanan.Ketika musim kerang tiba, hasil tangkapan bisa sangat melimpah. Menurutnya, kerang yang tidak diambil berpotensi mati, sementara hasil tangkapan yang melimpah juga perlu dimanfaatkan agar memiliki nilai tambah.
Karena itu, Haji Waras pernah bekerjasama dengan salah satu universitas dan mahasiswa untuk mengadakan pelatihan pembuatan kerupuk kerang dan pentol kerang sebagai salah satu upaya mengembangkan hasil laut menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Kendala Nelayan: Jembatan dan Kondisi Kali
Salah satu kendala yang disampaikan Haji Waras adalah kondisi jembatan, terutama Jembatan Jalan Lingkar Timur.Menurutnya, jembatan tersebut perlu ditinggikan. Ketika banjir dan permukaan air kali meninggi, perahu dapat kesulitan melintas karena bagian atas perahu berisiko menyundul konstruksi jembatan.
Saat hujan dan permukaan air mulai tinggi, nelayan biasanya memindahkan perahu ke sisi timur jembatan Lingkar Timur agar tidak terjebak ketika ketinggian air meningkat.
Harapan untuk Kali Blurukidul
Haji Waras melihat bahwa jumlah nelayan asli Blurukidul semakin berkurang dan aktivitas nelayan juga mengalami perubahan.Ke depan, apabila aktivitas nelayan semakin berkurang, Haji Waras berharap Kali Blurukidul tetap memiliki kehidupan dan dapat dikembangkan sebagai tempat wisata, dengan berbagai aktivitas yang dapat melibatkan masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan Nyadran tahun 2026, Haji Waras juga mengajak pelaku UMKM Blurukidul untuk turut berpartisipasi dalam pasar malam.
Menurutnya, kegiatan Nyadran tidak hanya menjadi ruang untuk menjaga tradisi, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal untuk ikut bergerak.
Perubahan zaman tidak dapat dihindari. Namun, cerita tentang nelayan, Kali Blurukidul, dan tradisi Nyadran perlu tetap dicatat agar generasi berikutnya mengetahui bagaimana kehidupan kampung ini tumbuh dan berubah dari masa ke masa.