Suara Gamelan Menggema di Malam Nyadran Blurukidul



Blurukidul — Senin malam, 28 September 2026, menjadi hari kedua rangkaian Nyadran Blurukidul. Pada malam tersebut, warga Blurukidul disuguhi pertunjukan Kesenian Jaranan Alang-Alang Kumitir.

Malam perlahan semakin gelap ketika suara gamelan mulai terdengar. Bunyi kendang, gong, kenong, dan perangkat gamelan lainnya mengisi suasana, berpadu dengan lantunan suara sinden di tengah keramaian warga.

Di atas panggung, para penari Jaranan Alang-Alang Kumitir bergerak mengikuti irama. Setiap gerakan berpadu dengan tabuhan gamelan dan suara sinden, membentuk suasana khas pertunjukan jaranan.

Di balik panggung, para penabuh gamelan dan sinden menjadi bagian penting dari pertunjukan. Kendang, gong, kenong, dan alat musik lainnya bukan sekadar pengiring, tetapi menjadi suara yang menghidupkan setiap gerakan para penari.

Pertunjukan berlangsung di tengah kebersamaan warga, sementara suara gamelan terus menggema sepanjang malam. Sebuah malam ketika Jaranan Alang-Alang Kumitir tampil, gamelan ditabuh, sinden mengalun, dan warga berkumpul menyaksikan kesenian tradisional.

Malam berlalu, pertunjukan berakhir. Namun suara gamelan yang pernah menggema malam itu tetap menjadi bagian dari cerita dan ingatan Nyadran Blurukidul.



































  • Memuat artikel terbaru...